asal mula kata Minangkabau

Asal Mula Kata Minang Kabau


Kata ‘Minangkabau’ seperti dituturkan dari mulut ke mulut oleh orang minang dahulunya  berasal dari kata ‘Minang’  yang berarti Menang dan ‘Kabau’ yang mempunyai arti Kerbau. Jika kedua kata itu digabungkan menjadi Minangkabau, mempunyai arti kerbau yang menang.  Alkisah zaman dahulu  sekitar 300 orang bala tentara dari Pulau Jawa mendarat di pantai barat Pulau Sumatra. Mereka menggunakan  empat apal besar, dan bersenjata lengkap menyampaikan maksud kedatangan agar orang-orang di pantai barat ini mengakui kedaulatan raja di Pulau Jawa. Bila mereka tak mau tunduk  maka akan dipaksa untuk takluk dengan melakukan penyerangan. “Hai kalian semua, kalian harus percaya dan patuh atas perintah raja di pulau Jawa, kalau tidak mau patuh, kalian terpaksa kami serang,” seru impinan rombongan dari Pulau Jawa dengan berkacak pinggang kepada penduduk yang baru saja didatanginya.
Mereka tak mau ditaklukkan, tapi tak juga bisa mengabaikan ancarman tersebut, kalaupun dilawan jelas akan kalah, karena mereka tak punya senjata lengkap seperti halnya tentara dari Pulau Jawa. Lagipula mereka tak biasa berperang.  Kepandaian mereka hanyalah menangkap ikan di laut, sebagai nelayan, dan sebagian bertani dengan menggunakan hewan ternak kerbau.  Lalu Pimpinan masyarakat di pantai barat Sumatra ini berunding dengan segenap pimpinan adat lainnya.  Balai adat tempat pertemuan diadakan sudah ramai dengan penduduk. Tampak para pimpinan adat memakai pakaian hitam dan destar di kepala, sementara penduduk juga tak sabar mendengar apa keputusan yang akan diambil sekaitan dengan ancaman akan ditaklukan itu. 
Datuak Mantiko Sati, pimpinan rapat itu memulai pembicaraan untuk mencari jalan keluar agar tentara jawa bisa pergi tanpa harus ada korban perang. Ada yang mengusulkan agar mereka lawan saja dengan mengerahkan semua penduduk laki-laki dan perempuan dewasa. “Asal tidak menyerah sebelum kalah, itu lebih baik”, terdengar suara seorang pendekar. Setelah beberapa usulan dan perdebatan akhirnya  muncul kesepakatan untuk mengadakan lomba adu kerbau, kerbau siapa yang menang, itulah yang berhak akan berkuasa.
Akhirnya usul ini disampaikan kepada pimpinan tentara Jawa. “Kita akan adakan lomba adu kerbau, bila kerbau kalian yang menang maka silahkan kuasai negeri ini, tapi bila kerbau kalian yang kalah, maka silahkan angkat kaki dari sini,” kata Datuak Mantiko Sati kepada pimpinan tentara Jawa. Mereka setuju, lalu menyiapkan kerbau besar jantan yang kuat demi  memenangkan lomba.
Mengetahui pihak Jawa menyiapkan kerbau besar dan ganas,  kembali masyarakat di wilayah barat Pulau Sumatra ini berunding lagi.  Mereka khawatir akan kalah karena tahu kerbau besar dan kuat sudah dipersiapkan pihak tentara Jawa. “Tidak perlu cemas, kita cukup persiapkan anak kerbau yang masih menyusu saja. Tapi sebelumnya kita pisahkan anak kerbau itu dari induknya selama dua hari sebelum waktu lomba mulai. Lalu ditelinga anak kerbau itu disisipkan pisau belati kecil yang tajam,” kata Cati Bilang Pandai, mengusulkan persiapan lomba.
Awalnya banyak peserta rapat yang tidak setuju dengan usulan Cati Bilang Pandai, tapi kemudian mereka percaya, termasuk Datuak Mantiko Sati menuruti apa yang disampaikan Cati Bilang pandai, memisahkan anak kerbau dari induknya dan memasang pisau belati di telinga kanan anak kerbau itu.
Tepat pada hari yang ditentukan, lomba adu kerbau dilaksanakan dilapangan terbuka di depan gedung balai adat.  Orang berduyun-duyun datang ke lapangan, mereka berkumpul dan berkelompok tak sabar menyaksikan lomba adu kerbau dan ingin tahu siapa yang jadi pemenangnya.  Masing-masing pihak sudah bersiap-siap melepaskan kerbau mereka dari kandangnya. “..Priiiit..” Terdengar aba-aba disampaikan juri, maka pintu kandang kerbau besar milik tentara Jawa dibuka, kerbau gagah, kuat dengan tanduk kokoh setengah melingkar itu lari menuju ke tengah lapangan.  Hampir bersamaan kandang kerbau orang minang ini juga dibuka dan secepat kilat anak kerbau melesat keluar dari kandangnya ke arah lapangan.  Belum sempat kerbau besar menyerang dengan tanduknya yang melingkar itu anak kerbau yang berlari kencang sejak pintu kandang dibuka menerobos cepat menuju kerbau besar.
Menyangka kerbau besar itu adalah induknya, anak kerbau langsung merunduk menuju ke perut kerbau besar.  Maklum ia kehausan karena sudah hampir dua hari tidak bertemu dengan susu induknya.  Sampai dibawah perut kerbau besar, kerbau kecil tetap tak henti bergerak, mencium-cium arah ke perut, merunduk, lalu  menanduk berulang kali dengan terburu-buru seolah-olah mencari putting susu induknya. Tapi seketika itu juga  terdengar bunyi seperti kain yang dirobek ”..breet…” “…breet… dan suara “crusshh…” diiringi darah muncrat dari arah perut kerbau besar.  Di tengah lapangan, tampak banyak darah menggumpal dan tak lama kemudian kerbau besar jatuh terguling, sementara anak kerbau tetap ingin menyusu. Ia tak menyadari kalau kerbau yang disangka induk itu sudah roboh, tapi tetap saja menanduk-nanduk ke arah perut kerbau besar.
Sesaat semua penonton terpana melihat kejadian singkat itu, tapi kemudian terdengar sorakan ditengah keramaian “Manang kabau! manang kabau..! manang kabau..! Lalu orang banyak juga bersorak hal yang sama dan melonjak kegirangan.  Segera Datuak Mantiko Sati, mewakili orang ramai bergerak menuju tempat duduk pimpinan tentara Jawa sembari berseru, “Kalian telah lihat yang menang adalah kerbau kami, sesuai perjanjian sekarang kalian boleh angkat kaki dari negeri ini,”  katanya kepada tentara pimpinan Jawa. Dengan tertunduk lemas dan diiringi seruan sorak sorai orang ramai “..Manang kaba, manang kabau.! pimpinan dan rombongan tentara jawa bergerak menuju pelabuhan dan berlayar meninggalkan daerah pantai barat sumatra. Sejak itulah daerah tersebut kemudian lebih dikenal dengan nama Minangkabau. Hingga sekarang nama itu menjadi nama bahasa dan  etnis melayu di Sumatra Barat yang terletak di pantai barat Pulau Sumatra ini.

sumber: cerita rakyat minangkabau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Barat yang Enak di Dengar Pada Saat Hujan

GAJE...!!!

pengertian internet