Asa yang Kuharapkan, Apakah Masih Ada?
Perempuan yang sedang menatap ke arah jendela yang bernama ashwa, yang biasa dipanggil swa. Itu aku. Entah apa yang aku liat, entah apa yang aku pikirkan, entah apa yang aku lakukan. Duduk termenung didepan jendela, mengabaikan kopi yang sudah dingin. Memang, aku sangat menyukai hujan, tapi kali ini beda dari biasanya. Biasanya aku dengan senang dan tenang memandang rintik hujan yang turun, tapi kali ini ada yang beda dari mataku. Yap, mata pun ikut mengeluarkan rintik hujan seperti tak mau kalah dengan hujan yang turun diluar sana. Tentu ini bukan pertama kalinya. Akhir akhir ini cara aku menatap dan menikmati hujan beda. Ingin berteriak? tapi sudah terlalu sering, ingin menyalahkan? tak tahu alamat mana yang dituju, ingin melangkah? jalan mana yang ditempuh tak tahu.
Perasaan ini tak mau pergi, sudah kusuruh dia untuk pergi jauh jauh, sudah sering ku bilang untuk cukup menggerogoti pikiran ini, sudah kulakukan banyak hal, tapi tetap saja dia tak mau pergi. Jujur, jika ku curahkan perasaan ini kepada orang lain aku tak tahu mulai darimana, aku tak tahu harus apa, aku tak tahu cara mengungkapkannya. Yang parahnya, aku pun tak bisa membayangkan respon mereka yang menanggapi cerita yg jika kucurahkan kepada mereka. Apakah mreka akan bersimpati, apakah mereka akan menertawakan, atau apakah mereka akan membenciku dari cara pikirku yang menurutku ini aneh? ah, memikirkannya saja aku sudah muak.
Semakin gelap langit yang kupandang semakin kalut hatiku. Uuh, aku benci keadaan ini. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku. Apakah aku pantas dengan orang orang disekitarku? apakah aku sudah melakukan yang terbaik untuk orang orang disekitarku? atau kah aku hadir dihidup mereka malah menambah beban?.
Jika ditanya apakah aku sendiri ingin mempunyai sifat seperti ini, dengan tegas kujawab TIDAK. Aku adalah definisi dari kata rumit. Rumit itu aku. Diriku pun menolak. Aku benci dengan sifat yang baperan, suka overthinking, sensitif, dan seseorang malah pernah menyebutku bahwa aku lebay. Sakit sekali rasanya ketika seseorang yang amat kusayang menilai diriku seperti itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Karena omongan itu aku mencoba untuk berubah, walaupun rasanya sangat asing menjadi orang lain. Tapi tetap akan kucoba sampai hati dan diri ini menyesuaikan lambat laun. Kurasa diri ini telah lelah untuk memberontak, karna itu diriku pun telah pasrah melakukan apa yg pikiranku perintahkan, hati pun sudah tak ia dengarkan lagi. Satu yang aku takutkan, dengan sikap ini lama kelamaan hati ku pun mati karena perkataannya sudah tak didengarkan lagi.
Atau memang begini rasanya menjadi dewasa. apakah aku sedang mengalami proses pendewasaan? terasa aneh dan menyakitkan bagiku. Tapi kujadikan ini semua pelajaran untuk kehidupanku selanjutnya. Terima kasih hujan. Hujan yang slalu menemani dan mewakilkan perasaanku yang tak bisa kusampaikan kepada orang orang. Asa ku untuk menjadikanku sebagai pribadi yang kuat, dewasa, dan jauh dari apa yang disampaikan oleh seseorang tadi. Apakah itu masih ada?
Perasaan ini tak mau pergi, sudah kusuruh dia untuk pergi jauh jauh, sudah sering ku bilang untuk cukup menggerogoti pikiran ini, sudah kulakukan banyak hal, tapi tetap saja dia tak mau pergi. Jujur, jika ku curahkan perasaan ini kepada orang lain aku tak tahu mulai darimana, aku tak tahu harus apa, aku tak tahu cara mengungkapkannya. Yang parahnya, aku pun tak bisa membayangkan respon mereka yang menanggapi cerita yg jika kucurahkan kepada mereka. Apakah mreka akan bersimpati, apakah mereka akan menertawakan, atau apakah mereka akan membenciku dari cara pikirku yang menurutku ini aneh? ah, memikirkannya saja aku sudah muak.
Semakin gelap langit yang kupandang semakin kalut hatiku. Uuh, aku benci keadaan ini. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku. Apakah aku pantas dengan orang orang disekitarku? apakah aku sudah melakukan yang terbaik untuk orang orang disekitarku? atau kah aku hadir dihidup mereka malah menambah beban?.
Jika ditanya apakah aku sendiri ingin mempunyai sifat seperti ini, dengan tegas kujawab TIDAK. Aku adalah definisi dari kata rumit. Rumit itu aku. Diriku pun menolak. Aku benci dengan sifat yang baperan, suka overthinking, sensitif, dan seseorang malah pernah menyebutku bahwa aku lebay. Sakit sekali rasanya ketika seseorang yang amat kusayang menilai diriku seperti itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Karena omongan itu aku mencoba untuk berubah, walaupun rasanya sangat asing menjadi orang lain. Tapi tetap akan kucoba sampai hati dan diri ini menyesuaikan lambat laun. Kurasa diri ini telah lelah untuk memberontak, karna itu diriku pun telah pasrah melakukan apa yg pikiranku perintahkan, hati pun sudah tak ia dengarkan lagi. Satu yang aku takutkan, dengan sikap ini lama kelamaan hati ku pun mati karena perkataannya sudah tak didengarkan lagi.
Atau memang begini rasanya menjadi dewasa. apakah aku sedang mengalami proses pendewasaan? terasa aneh dan menyakitkan bagiku. Tapi kujadikan ini semua pelajaran untuk kehidupanku selanjutnya. Terima kasih hujan. Hujan yang slalu menemani dan mewakilkan perasaanku yang tak bisa kusampaikan kepada orang orang. Asa ku untuk menjadikanku sebagai pribadi yang kuat, dewasa, dan jauh dari apa yang disampaikan oleh seseorang tadi. Apakah itu masih ada?
Komentar
Posting Komentar