Love Indonesia
“Tiitt..tiitt…”suara klakson bis pun berteriak...seakan
membangunkan seseorang dari tidur lelap. “Bangun nak..bis sekolahmu sudah menunggu
didepan rumah..nanti ditinggal lagi lhoo”kata mama seraya mebangunkan anak perempuan semata wayangnya. “yess mom...”
kata anak perempuan itu yang biasa dipanggil Esther. Setelah 10 menit,
perempuan itu terburu-buru menaiki bis tersebut. “huuhh…kamu Esther, kerjaannya
terlambat terus!! Emangnya kamu mimpi apaan sih? Sampai lama bener bangunnya?”
kata seorang anak laki-laki yang duduk disebelah Esther. “uuppss..i’m
sorry..last night aku baca novel, novelnya very good..do you want to read it??”
seru Esther. Ya,omongan Esther memang kebarat-baratan, bukan karena asalnya
dari luar negri, papa Esther adalah orang sunda, sedangkan mamanya asli dari
Betawi, jadi Esther asli orang Indonesia.
Esther tidak
mengakui bahwa ia adalah orang Indonesia, karena dia pikir Indonesia itu tidak
berkelas baginya, malahan ia lebih tertarik oleh Negara orang, bukan Negara
tempat ia dilahirkan. Karna itu orang tuanya geleng kepala melihat perilaku
anaknya. Padahal orang tuanya sudah beberapa kali berbicara bahwa Esther asli
orang Indonesia namun, Esther masih bersikeras bahwa ia bukan anak Indonesia.
Pada saat jam istirahat, Esther dipanggil oleh kepala sekolahnya. “Esther, ada
yang mau ibu bicarakan!” ucap ibu yang separuh baya itu. “What happen?” Tanya
seorang gadis yang kebarat-baratan itu. “Begini, sekarang ibu mau bertanya
kepada kamu, apakah kamu sebenarnya tidak menyukai Negara ini?” Tanya ibu
kepala sekolah yang biasa dipanggil ibu Vira dengan serius. “ehmm..gi..gini
bu..bukannya saya tidak suka, but..saya rasa saya kita tidak perlu membicarakan
itu bu..” kata Esther dengan kata-kata yang terbata-bata. “ehhmm..okey..gk
papa” jawab ibu Vera.
Esther memang tidak pernah mengikutu
pelajaran seni budaya…tentu ia tidak mendapatkan nilai. Alasannya banyak untuk
tidak mengikuti pelajaran tersebut, seperti: sakit, pusing, urusan keluarga,
dll. Sebab itu orang tuanya Esther menyuruh ibu kepala sekolah untuk membicarakan
persoalan ini dengan Esther. Pada pelajaran seni budaya, Esther mulai bereaksi
lagi, dia mulai meminta izin kepada guru seni budaya, tetapi guru seni budaya
yang biasa dipanggil pak Yanto ini sudah tau kalau Esther tidak menyukai
pelajaran ini, maka Esther disuruh keluar. Tetapi Esther merasa tidak enak
kepada pak Yanto, maka Esther melihat pelajaran dari luar.
Ternyata hari ini
adalah praktek. Yaitu membuat wayang kulit. Esther tentu sangat terkejut,
karena ternyata pelajaran seni budaya menyenangkan daripada apa yang dia
pikirkan, dengan pipi merah Esther, Esther masuk ke dalam kelas kembali, lalu
pak Yanto bertanya” Esther, kenapa kamu masuk lagi? Bukankah bapak telah
menyuruhmu keluar?”Tanya pak Yanto dengan seksama. “Eee..gini pak, saya lihat
dari luar, ternyata pelajarannya seru pak, bolehkah sa..sayaa masuk pak??”
Tanya gadis itu dengan pipi yang merah. “haha,..untunglah sekarang kamu mau
mempelajari kebudayaan Indonesia, tentu boleh kamu mempelajari kebudayaan
Indonesia, malahan bapak sangat senang kamu mau mempelajarinya” jelas pak Yanto
panjang lebar. Dengan malu-malu Esther membuat wayang kulit tersebut, tetapi
didalam hati Esther terbesit kata”I LOVE
INDONESIA”.
Komentar
Posting Komentar